Sejarah Tari Topeng Malang

Sejarah tari topeng malang telah ada sejak abad ke 8, dimana pada saat itu Malang berada pada kekuasaan kerajaan Kanjuruhan. Di zaman itu topeng dibuat dari batu dan merupakan bagian dari acara persembahyangan akan tetapi pada masa Raja Erlangga tari topeng mengalami perkembangan menjadi kesenian tari. Tari topeng juga merupakan sarana komunikasi rakyat jelata kepada rajanya.

Perkembangan jaman dan gejolak politik, tari topeng mengalami perubahan. Pada mulanya, tari topeng mengalami akulturasi dengan budaya hindu. Hal ini diketahui dari cerita yang ditampilkan berasal dari kisah klasik India.  Ketika jaman kerajaan Kertanegara di Singosari cerita tari topeng di adaptasi dari kisah-kisah kepahlawanan ksatria Jawa. Wayang Topeng Malang berkembang pesat hingga masa Kerajaan Majapahit sampai ketika agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Di masa ini, pembawaan Tari Topeng Malang kembali berubah dan lebih difokuskan sebagai media dakwah dengan menampilkan cerita-cerita Islam.

Tari topeng dimainkan oleh beberapa orang dengan mengenakan topeng serta kostum sesuai dengan tokoh yang diperankan. Tari topeng merupakan wujud penggambaran dari karakter manusia dan makhluk hidup. Pada umunya ada 4 karakter yang ditampilkan dalam tari topeng. Karakter tersebut antara lain protagonis, antagonis, tokoh lucu dan tokoh makhluk hidup lainnya. Tari topeng malangan lebih sering menceritakan kisah panji. Seperti kisah asmara Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati dengan Putri Sekartaji atau Candra Kirana, Raden Gunungsari, Dewi Ragil Kuning dan lainnya.

Gending yang digunakan biasanya dimulai dari gending giro, lalu gending eleng – eleng, kemudian krangean, dilanjutkan loro – loro dan gending gondel, terakhir gending sapu jagad. Tarian dibuka dengan beskalan lanang (topeng bangtih), kemudian jejer Jawa, jejer sabrang, perang gagal (selingan tari bapang), gunungsari-patrajaya, perang brubuh dan terakhir bubaran.

Baca Juga : Kosakata Bahasa Malang – Bahasa Walikan

Sejarah Tari Topeng Malang & Faktanya 1

Fakta menarik Tari Topeng Malang

1. Ciri Khas Tari Topeng Malang

Tradisi tari topeng memang tak hanya berkembang di Malang saja. Namun, karakteristik Topeng Malangan yang menjadi ciri khas terletak pada jenis topeng yang digunakan. Ciri khas Topeng Malangan yakni memiliki keragaman warna yang unik dengan kombinasi lima warna dasar, yaitu merah, putih, hitam, kuning, dan hijau. Selain itu, ornamen atau ukiran pada topeng Malangan juga terlihat lebih detail sehingga memiliki perbedaan yang cukup banyak dengan topeng dari daerah lain.

2. Topeng pertama terbuat dari emas.

Keberadaan Tari Topeng Malangan telah ada sejak masa Kerajaan Gajayana di Malang. Pada kala itu, topeng pertama dibuat dari emas yang kemudian dikenal dengan nama Puspo Sariro. Pemberian nama tersebut tidaklah sembarangan karena mengandung arti yakni, bunga dari hati yang paling dalam. Konon Topeng ini menjadi simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahnya yaitu, Dewa Sima.

3. Dibawakan dalam beberapa sesi

Tari topeng Malangan dimainkan oleh beberapa orang yang masing-masing melakoni peran tertentu sesuai dengan cerita yang dibawakan. Tari tersebut biasanya dibawakan dalam beberapa sesi. Sesi pertama adalah gendang giro, sesi ini merupakan iringan musik gamelan sebagai tanda pertunjukan akan segera dimulai dan menarik para penonton untuk segera menyaksikan pertunjukan. Sesi kedua adalah salam pembuka untuk menyapa penonton dan menyampaikan sinopsis cerita yang akan dibawakan dalam pertunjukan. Kemudian pada sesi ketiga adalah sesajen, yaitu sebuah ritual yang dipercaya dapat memberikan keselamatan pada penonton dan pemain serta agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Sesi terakhir adalah inti acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu pementasan Tari Topeng Malangan.

4. Dalang sebagai pengatur cerita

Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun – temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan juga terdapat seorang Dalang. Tugas dalang tersebut adalah untuk mengatur jalannya cerita sehingga pertunjukan berjalan dengan teratur dan dapat dimengerti oleh penonton. Selain itu Dalang juga bertugas untuk memberikan sesaji dan membacakan doa pada saat prosesi sesajen.